Hikam Maqolah 5
محمد لله الذي جعل التقوى خيرَ زاد، وأمرنا أن نتزود بها ليوم المعاد.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وهو أكرم الأكرمين، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، الموصوف بالخُلُق العظيم اللهم صلِّ وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد، فيا أيها المسلمون رحمكم الله، أوصيكم وإياي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada khutbah kali ini, khatib akan mengawali dengan sebuah nasihat agung dari seorang ulama besar, Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari, pengarang Kitab Al-Hikam. Beliau berkata:
اجتهادك فيما ضمن لك، وتقصيرك فيما طلب منك، دليل على انطماس البصيرة منك
“Kesungguhanmu terhadap sesuatu yang telah dijamin oleh Allah, dan kelalaianmu terhadap sesuatu yang diperintahkan Allah kepadamu, adalah tanda tertutupnya mata batinmu.”
Jamaah rahimakumullah,
Dalam hikmah ini terdapat dua perkara penting yang harus kita perhatikan:
Pertama: Mā ḍumina laka . ماضمن : الشيىء المضموم
Yaitu perkara yang telah dijamin oleh Allah, yakni rezeki, الذي يحصل له به قوام وجوده في الدنيا
Rezeki adalah segala sesuatu yang menopang kehidupan manusia di dunia: sandang, pangan, dan papan. Semua itu telah ditanggung oleh Allah SWT. Sesuai dengan dengan firman Allah berfirman:
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan betapa banyak makhluk bernyawa yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepadamu. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 60)
Kedua: Mā ṭuliba minka. ماطلب الشيء المطلوب
Yaitu perkara yang dituntut dan diperintahkan oleh Allah,
هو العمل الذي يتوصل به الى سعادة الاخرة والقرب من الله من عبادة وطاعات
berupa amal, ibadah, dan ketaatan, yang dengannya seseorang meraih kebahagiaan akhirat dan kedekatan dengan Allah SWT. Inilah yang harus kita sungguh dalam melaksanakanya
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Lalu mengapa kita justru bersungguh-sungguh terhadap perkara yang telah dijamin oleh Allah? Dan mengapa kita malah meremehkan serta lalai terhadap perkara yang diperintahkan oleh Allah? Padahal seharusnya kita bersungguh-sungguh dalam menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah dan tidak perlu terlalu mencemaskan perkara yang telah dijamin oleh-Nya
Mohon ampun, jangan sampai kita salah paham. Karena kesalahpahaman itu dapat menyebabkan iman kita kepada Allah terhambat oleh kesalahpahaman kita sendiri. Iman itu ibarat lampu teplok yang kacanya dipenuhi jelaga, sehingga akhirnya tidak mampu menerangi pikiran kita. Akibatnya, kita justru sibuk mengejar perkara yang sebenarnya sudah dicukupkan oleh Allah SWT, yaitu rezeki, dan menyia-nyiakan perkara yang telah diperintahkan oleh Allah, yaitu beribadah.
Kesalahan mendasar yang ada dalam pikiran kita adalah anggapan bahwa “orang yang tidak bekerja atau tidak mencari nafkah tidak akan mendapatkan rezeki”. Padahal rezeki itu diberikan oleh Allah. Bekerja atau tidak bekerja belum tentu menjadikan seseorang diberi rezeki oleh Allah, karena rezeki merupakan satu paket dengan kehidupan. Selama manusia hidup, Allah telah mencukupkan rezekinya. Namun, cukup itu berbeda dengan puas. Ketika hati kita belum merasa cukup atau masih merasa kurang, yang muncul adalah keinginan untuk terus mencari kepuasan, padahal kepuasan itu tidak ada batasnya. Dan kepuasan pun diberikan oleh Allah dengan cara-Nya sendiri, bukan dengan cara kita. Allah Maha Memiliki karunia yang agung.
Bekerja itu pada hakikatnya bukan untuk mencari rezeki. Bekerja adalah upaya untuk meraih kemuliaan dan membagi manfaat sesuai dengan porsi kemampuan yang telah dianugerahkan kepada kita. Jika seseorang diberi kemampuan sebagai tukang, maka bekerjalah melalui keahliannya sebagai tukang. Jika diberi kemampuan bertani, maka bekerjalah melalui pertanian dan bidang yang sejenis dengannya.
Maka mohon ampun, jangan sampai kita memiliki cara berpikir dan keyakinan bahwa “kalau tidak menjadi tukang tidak akan mendapat rezeki, kalau tidak bertani tidak akan mendapat rezeki”. Menjadi tukang atau bertani hanyalah bentuk pembagian manfaat dari kemampuan yang telah dianugerahkan oleh Allah. Jika seseorang diberi kemampuan sebagai tukang, petani, atau kemampuan lainnya, lalu kemampuan itu tidak digunakan dan ia tidak mau bekerja, maka hal tersebut justru termasuk menyia-nyiakan pemberian Allah SWT.
Rezeki itu adalah jatah dari Allah dan pasti akan dicukupkan oleh-Nya. Sedangkan bekerja adalah perintah yang wajib kita laksanakan. Karena itu, yang seharusnya kita sungguh-sungguhkan adalah menjalankan perintah-Nya, bukan terlalu mencemaskan rezeki-Nya. Jika seseorang masih lebih mementingkan rezeki dan meremehkan perintah Allah, maka menurut Ibnu Athaillah, ia termasuk orang yang hatinya tertutup.*
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Demikian khutbah yang dapat disampaikan. Semoga kita mampu mengambil hikmah dari Kitab Al-Hikam, dan semoga Allah SWT memberi kita hidayah agar mampu memahami dan mengamalkan ilmu-Nya.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم.
أقول قولي هذا، وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Tidak ada komentar
